"masa sih? emang kenapa? udah lo omongin secara langsung sama dia?"
"belum sih, tapi enggak ah, gue kalo udah kesel gamau ngomong lagi"
LAHHH
begitulah adanya, sekiranya, dan selamanya masalah Anda lama kelamaan bisa jadi masalah juga untuk orang lain.
Banyak sekali, di zaman yang serba mementingkan komunikasi seperti sekarang ini, ada whatsapp, line, instagram, telegram, dan kawan-kawan, yang bilang "males ngomong" ya tinggal WA saja, kok repot.
Kalau cuma males ngomong alasannya, tinggal japri kan gampang? Kalau alasan lain?
Sebenarnya masalahnya di mana sih? Katanya mau hidup enak, simpel, serba cepat, tapi pola pikirnya masih sama seperti zaman saat orang mengirim surat hanya mengandalkan burung merpati dan juga telepati.
Masalah yang sering banget dialami sama orang yang "males ngomong" biasanya gak langsung direct ke orang tersebut, tapi biasanya orang-orang di sekitarnya yang jengah, malas untuk mendekat, karena sekali mendekat langsung disemprot "KESELLL DEHHH"... begitu terus sampai kerupuk seblak kriuk lagi.
Saya bukan orang yang "bersih" sampai saya tidak pernah merasakan hal seperti ini, sering, dulu. Waktu saya abg dan belum tahu betul pentingnya menyampaikan apa yang kita benar-benar inginkan ke orang lain. Sungguh, melelahkan. Dan saya sekarang, kalau memang sudah malas betul berbicara, saya terima semua akibatnya, tutup kuping dan mulut sampai masalah bisa terselesaikan oleh waktu.
Balik lagi ke pokok bahasan yang di atas, kenapa sih kita malas untuk mengungkapkan? Gengsi?
Kalau bicara soal gengsi, Kamu masih suka kan produk diskon? sama kode promo? voucher?
Berharap untuk dimengerti?
Duh, sepertinya sudah banyak artikel yang mengulas mengenai hal ini. Lawan bicara kita adalah manusia biasa, sama; tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran dan hati seseorang.
Jika sulit mengatakannya melalui lisan, coba berbagai media sosial yang cukup ramah penggunaannya dengan keseharian Kamu. Tapi ingat, gunakan bahasa yang baik yang sekiranya bisa diterima oleh lawan bicara kita.
Komunikasi yang saya maksud bukan hanya sebagai bentuk ungkapan kekesalan saja, akan tetapi untuk semua hal. Mungkin yang sering dibahas di tempat lain adalah Bagaimana Cara Mengungkapkan Cinta. Tapi telling positive things is way easier than the negative one kan?
Susah banget bilang "Maaf, aku nggak suka sama yang kamu lakukan, aku merasa bla bla bla."
Takut si lawan bicara sakit hati?
Kemungkinan untuk dia jadi sakit hati sih masih ada, tapi balik lagi ke bahasa yang Kamu gunakan untuk menyampaikan ketidaksukaan Kamu sih. Tapi menurut saya wajar untuk seseorang dikritik dan diberi saran oleh orang lain. Semua akan baik-baik saja.
Saya yakin, dan menjamin kalau hidup Kamu akan jauh lebih tenteram kalau Kamu bisa mengutarakan isi hati, unek-unek, dan segala macam ide yang ada di diri Kamu. Kalau ternyata lawan bicara Kamu tidak mengalami perubahan setelah kamu mengatakan semuanya, ya tinggalkan, jauhi yang mudharat, jauhi orang yang membuang waktumu. Hidup selalu berkaitan dengan pilihan. Selama Kamu masih hidup, Kamu pasti akan selalu memiliki pilihan, dan Kamu tentunya harus memilih. Halah muter-muter.
Intinya..... terima aja kalau Kamu digituin terus. Selama Kamu belum makan, Kamu gak akan kenyang. Selama Kamu belum ngomong, Dia tidak akan mendengar.
Kalau Kamu masih tetep "malas ngomong" pliss.... pliss banget... stop complaining on that. Kamu yang mau dunia Kamu seperti itu, jangan mengeluh terus ya...
Terima Kasih.





