Monday, 26 November 2012

Iba Ibu Kota

Setiap hari aku melalui jalan-jalan protokol yang menggambarkan bahwa aku hidup disebuah kota yang menjadi sentral. Kutelisik lagi bagaimana aku bisa hidup di kota ini tanpa adanya kesabaran lebih. Bagaimana aku tetap berusaha meyakinkan diriku bahwa aku bisa hidup dengan semua ini, di kota ini. 

Setiap pagi, aku menyaksikan orang dengan gaya yang necis, memegang berbagai gadget yang sedang in...ah hanya saja mereka tak tau apa makna dari mengantri, makna dari sebuah kesabaran hidup dikota ini. Haruskah aku mengikuti gaya hidup mereka? Yang membentak jika tak menemukan apa yang mereka mau, yang menghardik jika tidak menemukan kenyamanan untuk mereka. Sudahkah mereka dihardik dan dibentak?

Mengklakson dengan terus menerus, membuat bising telinga... Aku tau kalian diburu oleh waktu, tapi apakah kau lihat didepan sana... seorang bapak setengah tua sedang berusaha bangkit dari jalan, berusaha mengangkat sepeda motor yang menimpa dirinya, adakah yang membantu? TIDAK. Akankah pekerjaan itu membuat mereka menjadi orang yang lupa kepada nilai moral? Mobil mewah terisi hanya satu orang didalamnya, berusaha menerobos jalur yang bukan haknya. Siapa lagi yang harus dirugikan? 

Sipengguna kendaraan umum, mendorong, menyerobot, mereka lakukan itu disaat yang lain sibuk menata hati untuk sabar dan menjaga tubuhnya agar tidak tersungkur jatuh karena didorong dari banyak sisi. Penuh, sesak dan lama menjadi ciri khas utama pada saat menanti bus kota yang menjadi nomor satu, yang memiliki halte khusus, jalur khusus, dan pegawai khusus. 

Bus kota lain? Panas, bau bensin menyengat menusuk hidung, kriminalitas yang merajalela, supir yang ugal-ugalan... Silahkan simpulkan sendiri.

Dimalam hari, orang-orang dengan raut muka lelah, tampak terburu-buru mengejar waktu. Antrian panjang yang tidak logis, karena setiap hari seperti itu, menambah deret panjang kefrustasian hidup dan bekerja serta tinggal dikota ini. Carut marut kendaraan yang melewati jalan raya pun semakin menjadi. Mungkin, aparat kepolisian memakluminya dan membuat tak ada satupun pengendara yang terkena sanksi pelanggaran lalu lintas. 

Jika hujan mengguyur, perlu satu hingga dua jam untuk menanti kendaraan umum yang semestinya muncul 15 menit sekali. Belum lagi dengan hadirnya kemacetan luar biasa yang lagi-lagi membuatku sangat iba. Ya iba kepada diri ini. Diri yang mencoba bersikap baik kepada kota yang menjadi tempatku mengadu nasib. Selalu ku lihat keluar jendela angkutan umum dan kutulis khayalan-khayalanku. Semoga khayalku untuk melihat kota ini lebih baik, dapat terealisasi. Tak perlu lagi mengiba pada ibukota....



Wiritten by Narita Pratiwi
Kill Plagiarism!
Anti Plagiarism!

Thursday, 22 November 2012

Pelantun Luka Lama

Mendapati hati yang kian lama tidak terkontrol, gusar yang tak wajar, kebaikan yang berubah menjadi sesuatu yang menjemukkan, keangkuhan yang menjadi kebiasaan...
Haruskah aku menghujat Tuhan?
Haruskah aku menyalahkan keadaan?

Satu amalan berharga mengitari benak ini, dengan sedikit kebohongan, aku menelisik kembali ada apa dibalik itu semua, ya semua.
Ketangguhan yang selama ini terlihat, klise.
Menjadikanku orang yang skeptis, menjauhkan diriku dari kedamaian hati, selalu merasa kurang dalam lebih. 

Kesempurnaan yang membuatku mengulik kisah lalu, mengupas kembali luka. 
Menorehkan goresan-goresan penyesalan.

Ketakutan ini membuih

Tuhan, haruskah ku menghujat-Mu?
Waktu, salahkah dirimu?
Aku?



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

Monday, 19 November 2012

Pembela Mencari Pembelaan

Hey dude! Do you know what I've done? YAYYYY I have done my assignment for tomorrow!!! Now... I'm studying at English Literature study program, English Department, Faculty of Languages and Arts, State University of Jakarta......!!!!!!             -___________________________________-

I'm so proud for studying literature more deeply than before and I have many friends that SO MUCH FUNNY!!! 

Yaaa gitudeh ya, sebenarnya saya mau menulis dengan bahasa inggris, tapi ya sudahlah ya saya lebih senang berbaku ria. Disini saya masuk melalui jalur mandiri... hmmm semudah ituya masuk UNJ? hmmmm lewat tes MANDIRI yaaa??? hmmm HAHAHAHA

Kenapa sih memangnya kalo masuk PTN lewat tes mandiri, MUSOLA BUAT LO? -__- Banyak yang mencemooh manusia-manusia yang berhasil masuk perguruan tinggi negeri dengan jalur mandiri, ehem termasuk orangtua saya. Menurut saya sah-sah saja kok(membela diri sendiri memang penting). Masih banyak diluar sana yang melalui jalur mandiri saja belum diterima, dan untungnya bukan saya. Malah menurut saya(untuk jurusan saya) jalur mandiri lebih terarah. Karena pada saat tes, ada bagian tes wawancara dan disitu kami para calon mahasiswa baru diuji pada tahap kedua... ya TOEFL(sejenis seperti itu). Lebih terarah bukan? Karena saya memilih jurusan sastra inggris, ya saya harus memiliki pondasi awal dalam berbahasa inggris dongg... nggak main-main. 

Itu hanya gambaran kecil sih.... ya memang lagi-lagi saya membela diri. Soal-soal tes mandiri di UNJ termasuk kategori soal yang sulit loh... saya saja mengerjakan dengan keputus asaan tingkat dewa. Takdir juga menentukan sih.... Baiklah... hanya ini saja yang ingin saya sampaikan untuk memotivasi kalian-kalian yang masih dicemooh. Masa depan itu kita yang megang, bukan tergantung dari siapa yang mencemooh dan apa kata para pencemooh. Walaupun kadang kita butuh dicemooh untuk bangkit menemukan cahaya pembelaan diri yang biasanya membuat kita menjadi berpikiran lebih lugas(?)