Saturday, 31 January 2015

Sampai Kesabaran Lelah Menemani

Kukatakan pada dinding baruku,
Dia yang telah memilih untuk menjadi pendampingmu adalah yang paling mengerti dirimu.
Mengapa?
Karena kau telah mengizinkannya untuk masuk ke dalam relung hatimu, yang dalam.

Dindingku yang lain pun tertawa dan berkata,
Ya memang, memang dia yang paling mengerti dirimu, tapi apakah mungkin kau akan selalu setia?
Melihatnya melakukan segala sesuatu di luar rencana, menamparmu dengan kasar.
Menarikmu pada situasi yang paling gelap, yang membuat kepalamu seakan tebentur keras.

Belum sempat ku mengeluarkan argumentasiku, dinding semuku menyambar dengan lirih,
Kau belum tahu? Semuanya akan begitu. 
Seperti permen karet yang manis yang lama kelamaan akan terasa pahit dan harus dibuang.
Seperti butiran gula yang akan lebur jika terus diaduk di dalam minumanmu.

Diamlah kalian benda mati!
Ku berteriak dengan lancangnya,
Menatapnya dengan pandangan tajam,
Memakinya,

Sampai kesabaran lelah menemaniku, ku kan terus menjadikannya emas diantara bebatuan.
Sampai kesabaran lelah menemaniku, tak ada seorangpun yang akan masuk ke dalam relung jiwa ini.
Sampai kesabaran lelah menemaniku, tak akan kubiarkan setitik noda pun jatuh melintasi garis kita.
Sampai kesabaran lelah menemaniku, ku tak akan berhenti, mencintaimu.



INSPIRED BY ARIF RACHMAN


Stop plagiarism!
Anti plagiarism!
Written by Narita Pratiwi.

Wednesday, 28 January 2015

Keraguan Kalbu

Banyak yang berkata bahwa hidup harus berjalan dengan lurus,
Ku mencobanya.
Banyak yang berkata bahwa selalu akan ada pilihan,
Ku memilihnya.
Banyak pula yang berkata bahwa kata hati adalah yang paling benar,
Ku mendengarnya.

Ku berjalan di jalan yang lurus, kupilih untuk berbelok sesuai dengan kata hatiku.
Ku berlari menyusuri desiran angin yang menderu, seolah menarikku ke alam yang baru
Ku tegakkan kepalaku untuk sekali lagi menoleh, menenangkan hatiku tuk memilih satu
Hatiku terpaku, pada takdir Mu yang kelabu

Rinduku membeku pada dataran berbatu
Asaku berpadu pada khayalan yang semu
Harapanku berlalu bersama dirimu yang ragu
Aku bergeming menahan pilunya kalbu


Stop plagiarism!
Anti plagiarism!
Written by Narita Pratiwi