Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Monday, 31 March 2014

Garis Melintang itu Jarak

Ada gak yang benci sama jarak? Aku sih agak benci sama jarak... tapi kamu tau gak kenapa orang benci sama jarak? 

Jarak ibarat garis yang melintang yang tertulis menggunakan pensil. Jarak merupakan pemisah dan terkadang menjadi kambing hitam dalam sebuah hubungan. Untuk kamu yang sedang mencoba pelan-pelan menghapus garis tersebut dengan karet penghapus, percayalah, lambat laun garis itu akan terhapus, walau menimbulkan sampah bekas tergoresnya karet penghapus yang secara terus menerus digunakan untuk menghapus. 

Jarak bisa aja ngajarin kamu gimana caranya berteman dengan kesendirian asal  kamunya bersedia. Kamu bakalan dididik jadi pribadi yang lebih mandiri dan kuat. Jarak gak cuma pemisah yang bisanya cuma bikin marah-marah. Jarak bisa membuktikan yang mana yang cinta beneran dan yang mana cinta bohongan, kalau kamu cinta yang mana?

Jarak itu gak pernah bohong. Jarak akan selalu ada untuk meyakinkan kamu kalau hidup ini gak semudah yang kamu kira. Jarak akan selalu membuktikan bahwa akan selalu ada cara untuk berusaha, tinggal kamu aja yang pilih, mau usaha atau enggak. Jarak membuat para penemu menciptakan alat transportasi yang sangat membantu. Jarak juga yang meningkatkan level kesabaran kamu untuk menunggu. 

Jarak oh jarak. Setebal apapun coretan itu, karet penghapus akan siap untuk menghapusmu. Walau akan lebih banyak sampah karet penghapus, tapi aku yakin, disitulah letak perjuangan yang paling ampuh.



Written by Narita Pratiwi
Anti plagiarism!
Stop plagiarism!

Tuesday, 21 January 2014

Pena Bertinta Emas

Berkaca pada noda di sisi kirinya, sebuah pena lebih berhati-hati memilih tintanya. Tak sedikit yang cocok sebenarnya, tapi apa guna kecocokan tersebut jika membuat performa pena itu tak sebaik biasanya. Kemungkinan besar yang didapat juga tak setebal tinta yang seharusnya. Tapi, jika pena tersebut tak dicelupkan kepada tinta, ya tinta manapun, apakah tak mengering?

Kemudian, pena tak pernah menyalahkan tinta manapun yang ternyata merusak performanya. Kemudian, pena mengerti, yang mana yang bersambut dan berkutat memperjelas guratan yang dihasilkan. Menimbun keinginan untuk berganti warna karena pena sadar, bahwa warna lain tak akan lebih baik daripada warna sebelumnya. Warna emas yang menyala jika diterpa sinar matahari.

Tidakkah mungkin ada warna dan jenis tinta lain yang lebih baik? Mungkin saja ada, bahkan dalam kuantitas yang lebih banyak. Mungkin pula yang lebih sepadan untuk pena tersebut akan berjumlah lebih. Tapi, apakah pena akan selalu kuat membiarkan ujung-ujungnya ditempa oleh benda asing? 

Berhentilah. Berhentilah memaksakan sesuatu yang tak mungkin. Berhentilah. Berhentilah mengharapkan sesuatu yang tak pasti. Sadarlah. Tak ada yang tak mungkin. Berkacalah. Sepadankah anda dengan apa yang anda paksakan? Sepadankah anda dengan yang anda harapkan? Mungkinkah anda membuat sesuatu yangh tak mungkin jika memang semua garisnya telah diatur?

Wahai pena yang malang, bersabarlah untuk tinta emas cerah yang kau harapkan. Kau pantas mengering. 

Pahamilah, kau takkan mati hanya karena kering. 



Written by Narita Pratiwi
Stop plagiarism!
Anti plagiarism!


Thursday, 9 January 2014

Sederhana, Rumah



Kamu pernah kan jalan-jalan? ke luar rumah gitu. Iya kamu bakalan seneng ngeliat apa yang ada diluar sana. Iya kamu juga bakalan lupa sejenak sama rumah kamu kan. Iya iya, kamu memang nemuin sesuatu yang baru, yang lebih baik, yang lebih nyaman, yang benar-benar gak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Kamu bakalan ngerasa asik diluar rumah. 

Kamu kalau main keluar rumah biasanya berapa lama sih? Kalau urusan diluar rumah udah kelar pasti pulang lagi kan? Ya kalau mau nginep juga cuma beberapa hari, pasti nanti juga pulang. Kamu emangnya pernah nemu tempat senyaman rumah sendiri? Aku sih belum nemu he he.

Kamu ngerti kan apa gunanya rumah? 

Kamu pernah ngerasain homesick?

Mungkin yang paling sering sih, bosen sama suasana rumah, gitu-gitu aja, yakan? Ya gak kenapa-kenapa juga sih kalau bosen sama rumah, nanti juga pulang lagi, kan rumah memang tempat untuk berteduh, tempatnya berkeluh kesah, tempatnya ngerapihin diri biar up lagi kalau mau ke luar rumah.

Kalau bosen sama rumah sendiri kan bisa langsung di dekorasi ulang rumahnya, gampang lah yaa buat ngatur rumah buat jadi sedemikian rupa biar gak ngebosenin kalau lagi bosan. Terus kalau kamu bosan sama dunia luar, kamu ngapain? Ya pulang ke rumah lah yaa hehehe.

Kamu mau jadi rumah?


Written by Narita Pratiwi
Anti plagiarism!
Stop plagiarism!

Friday, 1 November 2013

Mereka

Menelusuri dinginnya jalanan ibukota, bergumul dengan hiruk-pikuk warganya, terlihat sebuah kontradiksi yang mencolok dan menusuk hati nurani. Anak-anak tak cukup umur, berlarian kesana kemari memegang kantong berisikan hasil jerih payahnya. Bau tak sedap yang tak seharusnya hinggap pada tubuh mereka yang mungil, menambah hinaan yang telah ada. Cara berpakaian yang makin memperjelas bahwa mereka adalah yang harus diprioritaskan, menggambarkan guratan kesedihan akan takdirnya. Apa yang sesungguhnya ada dalam benaknya? Mencari sesuap nasi atau memang terintimidasi? Apakah mereka menginginkan ada pada posisi tersebut? Apa yang kita perbuat? Menghujat?

Beramai-ramai kaum tingkat atas memperebutkan harta, jabatan dan penampilan, berlari tanpa sudi melihat ke posisi paling rendah juga selalu menengadah ke arah awan bernanung. Melihat katalog berisikan produk model terbaru, mengikuti kelas-kelas yang akan hanya mereka pergunakan untuk mempercerdas dirinya sendiri, dan mencerca bagaimana sebuah alur yang memang sudah teratur. Kalian?

Dengan uang yang mereka miliki untuk sekali mengenyangkan perut, mereka dapat menggunakannya untuk senin sampai minggu. Dengan uang yang mereka miliki untuk satu baju, mereka dapat memiliki empat sampai lima baju baru. Ilmu yang mereka miliki untuk memperkaya diri, siapakah yang miskin sekarang?

Berkali-kali mereka menghujat Tuhan, berkali-kali pula mereka mengagumi indahnya menjadi pelengkap. Tak akan ada mereka jika tak ada kalian, begitu juga sebaliknya.

Tundukkan kepala kalian, lihatlah sekitar. Pejamkan mata kalian, lihatlah yang tengah terpejam, bersimpuh, menanti akan hadirnya sebuah keadilan.



Written by Narita Pratiwi
Stop plagiarism!
Anti plagiarism!

Tuesday, 13 August 2013

Deskripsi Lirih Sang Tersisih

Entahlah, hanya saja aku merasa lagi-lagi aku dipermainkan. Bukan. Sebenarnya tak seperti itu. Aku hanya tak tau kata apa yang pantas digunakan untuk mendeskripsikannya.

Memikirkan apa yang tak perlu dipikirkan memang menjadi akar penyakitnya. Disetiap kedip mata ini, terpikirlah olehku bagaimana caranya. Bagaimana yang semestinya. Aku melupakan sesuatu; hidupku telah diatur dengan indah oleh Yang Maha Kuasa. Aku terlalu takut menjadi tersisih.

Masih ada sebagian orang yang melihat kemana niat baik akan berujung tanpa melihat lagi tujuannya. Mereka hanya ingat kemana ujungnya. Mereka seakan lupa dengan niatan baik yang terselubung didalamnya.

Masih ada sebagian orang yang menunjukkan kemarahannya karena merasa dia yang paling dirugikan. Mereka tak melihat ada oranglain yang menangis karena kemarahannya. Mereka ingat akan sakitnya dan menutup mata untuk orang yang sakit karena sakitnya.

Tidak. Aku tidak mengharapkan dunia ini untuk adil. Aku tidak mengharapkan dirinya melihat apa yang aku harap.

Hanya, aku ingin dirinya sekedar tau.

Akulah orang pertama yang tertegun melihatnya terdiam. Akulah orang pertama yang cemas melihatnya terbakar emosi. Akulah orang pertama yang menangis karena tangisannya.

Aku yang menyembunyikan diri, berusaha memperbaiki keadaan. Akulah yang seolah tak peduli betapa menyakitkannya menjadi tersisih.

Ya. Itulah aku. Mencintaimu dengan kadar berlebih. Menyayangimu tanpa pamrih. Menyukaimu walau aku tersisih.



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!


Monday, 29 July 2013

Sebatang Lilin Berpeluh

Apakah terdengar keluhan sebatang lilin pada saat kau bakar sumbunya dan perlahan bagian putihnya meleleh? 

Apa yang kau lakukan pada saat pertama kali membuatnya menyala terang? Merapatkan kedua tanganmu, menjaga apinya agar tak ada sedikitpun angin yang berhembus. Setelah terang dan menyala, kau biarkan. Kau meninggalkannya. Kau menikmati cahayanya. Kau biarkan lilin itu mengecil. Meredup. Dan akhirnya mati.

Kau pun tau tetesan yang dihasilkan oleh lilin tersebut adalah menyakitkan. Kau dapat terluka karenanya dan kau biarkan lilin itu berdiri sendiri, kokoh tegak karena cairannya. Lilin itu tak pernah merasa sakit. Lilin itu terus bermandikan peluhnya sendiri dan tanpa sadar...peluhnya adalah kekuatannya. 

Terdengar menyedihkan memang menjadi sebatang lilin. Hanya terus menerangi tanpa diterangi. Hanya menyala untuk dihabisi. Hanya berdiri dengan peluh sendiri. Apa kau mengerti wahai penikmat lilin? Cahayanya terlalu indah untuk kau sia-siakan. Cahayanya terlalu manis untuk kau tinggalkan. 

Menatapnya dengan tatapan kosong seperti itu takkan membuat lilin itu meredup. Menatapnya dengan belas kasihan pun tak akan mengurangi terangnya. 

Ya... lilin itu akan meredup. Akan meredup pada waktunya.



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

Friday, 5 July 2013

A Letter from Angelica

Hey sweety, how are you?
Do you feel happy after that night?

I hope the picture has been sent and you will know what I mean. 

Uhmm... I miss you. 
I know you're home right now, we need to talk actually, but.. it's better to keep it sealed. To try acting like nothing happened. It's better than seeing her messed up, it's more important than our feeling. Is that your sheep-blanket still there? I miss that thing already. Is that thing still blue? I hope so. And aaa is that thing still smelled like uhmm like yours? 

Okayyyy please...... my mind walks further to that time. When we were painting a flower. We dropped the watercolor and you cleaned it up he he. Oh man! This is about past tense. So hard to think about what the fucking verbs in the past. Mannn I realize that this is just our memories. This is our past. I need to move forward. I need to open the new page of my life. Why always you? 

Yes.. because... I miss you.

Is that wrong to have an ache by missing someone? 

"Biarin aja, biar kangennya menggunung"



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!


Monday, 24 June 2013

Walk Away

I hope you know how my heart bleeding. After I realised that you're my biggest mistake in my life, I do understand what betrayal is. 

Disappointment. 

Day by day I have been following my heart to wait. I pursued my mind to wait. I talked to myself that I'm on the right track to wait. Being ignored by you is my life, but believing in a betrayer is fault. You said that you would do anything to make her come back, so that anything can be something really hurt, for instance leaving me. I don't want my heart come back to you. Giving up is my last choice. 

I know you will never be the same. You will never love me as you loved me yesterday. You will never understand my feeling. You will always think of her. You will throw me away. You will delete all of our memories. You will forget me as soon as you can. You will never hold my hand. You will never hug me tight like we used to. 

There will no smooth kiss from you anymore. There will no smell like yours. There will no one tell me that you are looking for me. There will no touch on my head anymore. 

See?
I'm drunk knowing your answer. I have my step by step staying away from you. I hope God will make it easier. God will help me to keep you flying high away from my mind. God will open my mind to see another better. God knows better.

Sorry for destroying your best relationship. I even say sorry for you who had dated with her without any permission from me:D




Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

Friday, 10 May 2013

Nada Halusinasi

Terdengar suara indah mengalun dibalik pintu. Ku pertajam indera pendengarku. Terperanjatlah aku kedalam lingkar-lingkar semu tentang masa itu. Suara itu menuntunku pada taman bunga yang indah, mempesona! Rasanya sangat manis. Aku seperti berjalan diantara bunga-bunga yang bermekaran dan angin bertiup senada dengan hembusan napas ku. Alunan suara itu terus membawaku, semakin jauh. Aku terpejam di antara bunga-bunga harum, ku nikmati setiap aroma yang menyebar, ku biarkan indera penciumanku bekerja lebih baik lagi. Betapa romantisnya suasana kala itu.

Suara indah tersebut pun berhenti. Aku tersadar, aku hanya berhalusinasi. Ah.

Tak lama kemudian, terdapat pula suara yang lebih keras namun sama indahnya. Seketika air mata ini mengguyur basah pipiku. Ada apa ini, pikir ku. Jantung ku berdegup kencang, aliran darah ini mengalir lebih cepat. Terekam lagi kejadian itu. Hancur. Aku hancur hanya karena mendengar potongan-potongan irama antah berantah. Aku berusaha mengalihkan pikiran itu, namun musik masih sama. Belum berhenti. Kejadian itupun masih sama, terputar jelas disini.

Hening, kemudian hening. Aku sadar, aku  berhalusinasi.




Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

Saturday, 13 April 2013

Pejuang Rindu

I'm too weak to write it down. But here I come:)

Menarik napasku dalam-dalam. Dikeheningan malam yang kurasa kalian tau bagaimana nampaknya diriku. Aku gusar, tak dapat tidur dengan nyenyak. Yah walaupun aku belum mencoba untuk tidur. Setidaknya aku masih bisa menyombongkan diri didepan layar segi empat  ini, aku menguatkan diriku dengan merangkai huruf-huruf yang ada pada papan bawahnya. Aku terlalu lama menahan diri untuk tak merengek seperti anak berumur 3 tahun yang meminta balon pada ibunya.

Menurutku jika semua wanita berpikiran sepertiku, laki-laki akan semakin merdeka menerapkan logika-logika liar mereka. Tidak, maksudku aku yakin satu atau dua lelaki pasti memanfaatkan kelemahan wanita yang sedang rindu. Merasakannya kini aku mengerti mengapa Hawa adalah sebagian tulang rusuk Adam. Kodrat mungkin. Dan kaum Hawa begitu lemah

Otak wanita memang selalu begitu. Sampai kemanapun ia beranjak dari memori, disitulah ia memulai lagi memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Menyiksa diri karena rindu adalah keahlian wanita. Hey kalian para lelaki, lihatlah sebongkah hati tengah berdarah merindukanmu! 

Perputaran syaraf ingatan ini menuntunku untuk mengingat apa saja yang pernah kita lalui bersama. Syaraf pembauku masih selalu ingat akan semerbak aroma khas tubuhmu. Indra perabaku masih ingat betapa halusnya kulitmu. Tak lain dan tak bukan, jiwa ini masih mengingat tiap detil guratan-guratan sang pencipta yang begitu maha kuasa untuk menyempurnakanmu. 

Aku pernah berkata aku tak mampu memejamkan mataku karena disetiap tertutupnya kelopak mata ini, wajahmu selalu tampil. Bak aktor hebat yang lalu lalang dilayar lebar, begitulah kau memukau ku pada saat kupejamkan mata ini. Aku tersiksa, sayang. Akupun bingung, disaat kubuka mata ini, kuselalu mencari-cari kabarmu, dan kau tak kunjung muncul. Bahkan aku memberanikan diri untuk meniupkan bisikan rindu itu padamu, tapi kenyataannya kau terlalu sibuk mendengarkan jeritan-jeritan rindu, kau tak dengar bisikan. Rumah siputmu tak peka terhadap bisikan!

Aku cacat. Jiwa ini tak dapat mengaturnya lagi. Aku melihat bayangmu disana. Aku menghirup aromamu disini. Dan disebelah kanan sana, aku dengar tawamu. Disekelilingku, tentangmu. 

Terimakasih kau telah memenuhiku dengan sejuta memori. Aku senang aku masih dapat menangis jika ku ingat kau pernah mencumbu diriku dengan kebohongan. Janjimu yang kupikir akan selamanya palsu, semakin menambah daftar panjang sebagai alasan air mata ini harus keluar. Tak apa, air mata ini takkan pernah habis untukmu. 

Terimakasih juga untukmu yang telah membuatku menghargai keindahan merindukan seseorang. Kau mengajarkanku berusaha dan tak pernah putus asa untuk menanti. Aku tak pernah merasa bodoh untuk menantimu, walaupun burung-burung parit itu mencemoohku. Kalaupun penantianku ini takkan membuahkan hasil, aku yakin aku akan berubah menjadi si pejuang rindu.... Pejuang rindu yang berusaha untuk merindukan kisah-kisah indah dan yang paling indah selama hidupku denganmu. Rindu tak harus selalu sendu karena cintaku tak terbalas olehmu.


Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

Thursday, 11 April 2013

Malam Masih Bisa Terang

Sebelumnya di keadaan dimana kau membutuhkan alternatif lain selain lampu yang dapat menyala karena sumber energinya adalah listrik, kau menyalakan lampu itu. Sangat cerah memang. Apa kau ingat disaat lampu listrik belum menjamah dunia mu? Begitu terang kah?

Bumi ini gelap. Bumi ini terang hanya pada siang hari, pada saat matahari itu tepat pada porosnya menerangi dunia dimana kau berpijak. Kau dapat dapat melihat cerahnya dunia mu. Kau dapat menikmati semuanya dengan mata telanjang. Semuanya membuatmu begitu mengagumi semua ciptaan Tuhan. 

Pada saat malam mu tiba, hai apakah kau bisa melihat itu semua? Tapi tenang, keindahan awan bertabur bintang masih dapat kau nikmati. Tapi jika awan sedang tak bersahabat, apakah kau tak merasa sendirian? Sunyi, sepi dan senyap menggerayangi setiap alunan napas mu. Gelap. Matamu yang masih normal dan dapat melihat dengan jelas, tak menunjukkan kebisaannya. Kau terus berjalan meraba, menangkis segala benda yang ada di depanmu. Kau terus merasa cemas, lubang besar apa yang akan ada di depanmu? Kau selalu melompat untuk menghindari lubang. Hingga kau terlalu lelah. Peluh mu pun mentertawai.

Pernahkah kau berpikir kenapa Thomas A. Edison menemukan lampu? Mengapa kau tak mencoba seperti dirinya? Menemukan terangmu pada saat kau merasa tersesat dalam kegelapan. Apakah kau mendengar tawa dari semesta? Semesta mentertawaimu kawan. Kau bodoh! Kau hanya melompati lubang yang fana. Temukan terangmu! Tidak ada lubang didepanmu!



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

Wednesday, 10 April 2013

Kertas itu Istimewa

Kertas itu putih. Lalu kubiarkan kertas itu terjatuh dan kau memungutnya. Kubiarkan kertas itu sepenuhnya menjadi milikmu. Lambat laun kau mulai menorehkan goresan-goresan. Warna-warna pastel kau tumpahkan dengan indahnya. Pena-pena itu kau pergunakan terus menerus, tintanya pun habis. Entahlah, sejak saat itu kau tak pernah lagi menorehkan warna pastel halus nan lembut ke kertas itu.

Disaat kau bosan, kau ingin menambahkan goresan-goresan itu. Namun kau lupa, tinta-tinta pastel itu telah habis kau eksploitasi. Kau tak lupa, kau masih memiliki pena lainnya. Kali ini warnanya cukup terang dan cendurung menyolok. Kau cukup berani dalam menorehkan tinta ini. Kau melihat kertas itu berkali-kali, lambat laun kau menyadari keindahan kertas itu. Ya... kertas ku. Aku semakin terpesona saat kau mulai lebih berani menambahkan berbagai macam warna-warna gelap. Sungguh memiliki estetika yang menarik. Aku semakin mencintainya. Bukan, maksudku...kertasku. Sungguh menawan! 

Hukum alam menjawab semuanya, kertas itu melapuk. Memudarkan semua tinta-tinta indahnya. Kau mencampakkannya. Setelah sekian lama, semenjak kau buat kertas itu menjadi luar biasa, kau lupa.. kau lupa bagaimana cara merawatnya. Kau lupa membaca cara penggunaan pena itu. Pena itu tak tahan terhadap sengatan matahari, tapi kau terus membiarkan kertas itu terkena sinar matahari langsung. Kertas itu tak mungkin tak sobek jika terkena air, tapi kau biarkan air mataku menetes dikertas itu. Kau...sibuk merawat yang lain.

Sampai tiba pada saat aku pun jenuh merawat kertas itu, aku putuskan untuk membiarkannya lapuk, pudar, dan hampir terbelah. Aku pun mencoba untuk membuat saja yang baru, karyaku sendiri. Kau? Kau menoleh kembali ke kertas itu saat aku membuat yang lebih indah, tapi milikku tak akan seistimewa kertas itu. Kertas yang penuh dengan perpaduan warna. Tak melulu soal cerah, kau torehkan juga yang gelap. Tak melulu soal hitam, kau bubuhkan juga yang putih. Istimewa.

Kau rekatkan sobekan itu dan aku membantumu untuk membingkainya. Indah. Istimewa. 

Aku dan kau tak perlu lagi memayungi kertas itu agar tak terkena sinar matahari atau air hujan. Kertas itu aman didalam bingkai. Hanya membutuhkan sesekali memandangnya dan menghapus debu yang hinggap di bingkainya.

Aku dan kau mengerti, keindahan tak perlu digenggam, keindahan hanya dapat dinikmati, didalam sebuah pigura bersih dan tertancap didinding kokoh dan sempurna!



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!