I'm too weak to write it down. But here I come:)
Menarik napasku dalam-dalam. Dikeheningan malam yang kurasa kalian tau bagaimana nampaknya diriku. Aku gusar, tak dapat tidur dengan nyenyak. Yah walaupun aku belum mencoba untuk tidur. Setidaknya aku masih bisa menyombongkan diri didepan layar segi empat ini, aku menguatkan diriku dengan merangkai huruf-huruf yang ada pada papan bawahnya. Aku terlalu lama menahan diri untuk tak merengek seperti anak berumur 3 tahun yang meminta balon pada ibunya.
Menurutku jika semua wanita berpikiran sepertiku, laki-laki akan semakin merdeka menerapkan logika-logika liar mereka. Tidak, maksudku aku yakin satu atau dua lelaki pasti memanfaatkan kelemahan wanita yang sedang rindu. Merasakannya kini aku mengerti mengapa Hawa adalah sebagian tulang rusuk Adam. Kodrat mungkin. Dan kaum Hawa begitu lemah
Otak wanita memang selalu begitu. Sampai kemanapun ia beranjak dari memori, disitulah ia memulai lagi memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Menyiksa diri karena rindu adalah keahlian wanita. Hey kalian para lelaki, lihatlah sebongkah hati tengah berdarah merindukanmu!
Perputaran syaraf ingatan ini menuntunku untuk mengingat apa saja yang pernah kita lalui bersama. Syaraf pembauku masih selalu ingat akan semerbak aroma khas tubuhmu. Indra perabaku masih ingat betapa halusnya kulitmu. Tak lain dan tak bukan, jiwa ini masih mengingat tiap detil guratan-guratan sang pencipta yang begitu maha kuasa untuk menyempurnakanmu.
Aku pernah berkata aku tak mampu memejamkan mataku karena disetiap tertutupnya kelopak mata ini, wajahmu selalu tampil. Bak aktor hebat yang lalu lalang dilayar lebar, begitulah kau memukau ku pada saat kupejamkan mata ini. Aku tersiksa, sayang. Akupun bingung, disaat kubuka mata ini, kuselalu mencari-cari kabarmu, dan kau tak kunjung muncul. Bahkan aku memberanikan diri untuk meniupkan bisikan rindu itu padamu, tapi kenyataannya kau terlalu sibuk mendengarkan jeritan-jeritan rindu, kau tak dengar bisikan. Rumah siputmu tak peka terhadap bisikan!
Aku cacat. Jiwa ini tak dapat mengaturnya lagi. Aku melihat bayangmu disana. Aku menghirup aromamu disini. Dan disebelah kanan sana, aku dengar tawamu. Disekelilingku, tentangmu.
Terimakasih kau telah memenuhiku dengan sejuta memori. Aku senang aku masih dapat menangis jika ku ingat kau pernah mencumbu diriku dengan kebohongan. Janjimu yang kupikir akan selamanya palsu, semakin menambah daftar panjang sebagai alasan air mata ini harus keluar. Tak apa, air mata ini takkan pernah habis untukmu.
Terimakasih juga untukmu yang telah membuatku menghargai keindahan merindukan seseorang. Kau mengajarkanku berusaha dan tak pernah putus asa untuk menanti. Aku tak pernah merasa bodoh untuk menantimu, walaupun burung-burung parit itu mencemoohku. Kalaupun penantianku ini takkan membuahkan hasil, aku yakin aku akan berubah menjadi si pejuang rindu.... Pejuang rindu yang berusaha untuk merindukan kisah-kisah indah dan yang paling indah selama hidupku denganmu. Rindu tak harus selalu sendu karena cintaku tak terbalas olehmu.
Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!