Wednesday, 10 April 2013

Kertas itu Istimewa

Kertas itu putih. Lalu kubiarkan kertas itu terjatuh dan kau memungutnya. Kubiarkan kertas itu sepenuhnya menjadi milikmu. Lambat laun kau mulai menorehkan goresan-goresan. Warna-warna pastel kau tumpahkan dengan indahnya. Pena-pena itu kau pergunakan terus menerus, tintanya pun habis. Entahlah, sejak saat itu kau tak pernah lagi menorehkan warna pastel halus nan lembut ke kertas itu.

Disaat kau bosan, kau ingin menambahkan goresan-goresan itu. Namun kau lupa, tinta-tinta pastel itu telah habis kau eksploitasi. Kau tak lupa, kau masih memiliki pena lainnya. Kali ini warnanya cukup terang dan cendurung menyolok. Kau cukup berani dalam menorehkan tinta ini. Kau melihat kertas itu berkali-kali, lambat laun kau menyadari keindahan kertas itu. Ya... kertas ku. Aku semakin terpesona saat kau mulai lebih berani menambahkan berbagai macam warna-warna gelap. Sungguh memiliki estetika yang menarik. Aku semakin mencintainya. Bukan, maksudku...kertasku. Sungguh menawan! 

Hukum alam menjawab semuanya, kertas itu melapuk. Memudarkan semua tinta-tinta indahnya. Kau mencampakkannya. Setelah sekian lama, semenjak kau buat kertas itu menjadi luar biasa, kau lupa.. kau lupa bagaimana cara merawatnya. Kau lupa membaca cara penggunaan pena itu. Pena itu tak tahan terhadap sengatan matahari, tapi kau terus membiarkan kertas itu terkena sinar matahari langsung. Kertas itu tak mungkin tak sobek jika terkena air, tapi kau biarkan air mataku menetes dikertas itu. Kau...sibuk merawat yang lain.

Sampai tiba pada saat aku pun jenuh merawat kertas itu, aku putuskan untuk membiarkannya lapuk, pudar, dan hampir terbelah. Aku pun mencoba untuk membuat saja yang baru, karyaku sendiri. Kau? Kau menoleh kembali ke kertas itu saat aku membuat yang lebih indah, tapi milikku tak akan seistimewa kertas itu. Kertas yang penuh dengan perpaduan warna. Tak melulu soal cerah, kau torehkan juga yang gelap. Tak melulu soal hitam, kau bubuhkan juga yang putih. Istimewa.

Kau rekatkan sobekan itu dan aku membantumu untuk membingkainya. Indah. Istimewa. 

Aku dan kau tak perlu lagi memayungi kertas itu agar tak terkena sinar matahari atau air hujan. Kertas itu aman didalam bingkai. Hanya membutuhkan sesekali memandangnya dan menghapus debu yang hinggap di bingkainya.

Aku dan kau mengerti, keindahan tak perlu digenggam, keindahan hanya dapat dinikmati, didalam sebuah pigura bersih dan tertancap didinding kokoh dan sempurna!



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

0 comments:

Post a Comment