Monday, 29 July 2013

Sebatang Lilin Berpeluh

Apakah terdengar keluhan sebatang lilin pada saat kau bakar sumbunya dan perlahan bagian putihnya meleleh? 

Apa yang kau lakukan pada saat pertama kali membuatnya menyala terang? Merapatkan kedua tanganmu, menjaga apinya agar tak ada sedikitpun angin yang berhembus. Setelah terang dan menyala, kau biarkan. Kau meninggalkannya. Kau menikmati cahayanya. Kau biarkan lilin itu mengecil. Meredup. Dan akhirnya mati.

Kau pun tau tetesan yang dihasilkan oleh lilin tersebut adalah menyakitkan. Kau dapat terluka karenanya dan kau biarkan lilin itu berdiri sendiri, kokoh tegak karena cairannya. Lilin itu tak pernah merasa sakit. Lilin itu terus bermandikan peluhnya sendiri dan tanpa sadar...peluhnya adalah kekuatannya. 

Terdengar menyedihkan memang menjadi sebatang lilin. Hanya terus menerangi tanpa diterangi. Hanya menyala untuk dihabisi. Hanya berdiri dengan peluh sendiri. Apa kau mengerti wahai penikmat lilin? Cahayanya terlalu indah untuk kau sia-siakan. Cahayanya terlalu manis untuk kau tinggalkan. 

Menatapnya dengan tatapan kosong seperti itu takkan membuat lilin itu meredup. Menatapnya dengan belas kasihan pun tak akan mengurangi terangnya. 

Ya... lilin itu akan meredup. Akan meredup pada waktunya.



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

0 comments:

Post a Comment