Berkaca pada noda di sisi kirinya, sebuah pena lebih berhati-hati memilih tintanya. Tak sedikit yang cocok sebenarnya, tapi apa guna kecocokan tersebut jika membuat performa pena itu tak sebaik biasanya. Kemungkinan besar yang didapat juga tak setebal tinta yang seharusnya. Tapi, jika pena tersebut tak dicelupkan kepada tinta, ya tinta manapun, apakah tak mengering?
Kemudian, pena tak pernah menyalahkan tinta manapun yang ternyata merusak performanya. Kemudian, pena mengerti, yang mana yang bersambut dan berkutat memperjelas guratan yang dihasilkan. Menimbun keinginan untuk berganti warna karena pena sadar, bahwa warna lain tak akan lebih baik daripada warna sebelumnya. Warna emas yang menyala jika diterpa sinar matahari.
Tidakkah mungkin ada warna dan jenis tinta lain yang lebih baik? Mungkin saja ada, bahkan dalam kuantitas yang lebih banyak. Mungkin pula yang lebih sepadan untuk pena tersebut akan berjumlah lebih. Tapi, apakah pena akan selalu kuat membiarkan ujung-ujungnya ditempa oleh benda asing?
Berhentilah. Berhentilah memaksakan sesuatu yang tak mungkin. Berhentilah. Berhentilah mengharapkan sesuatu yang tak pasti. Sadarlah. Tak ada yang tak mungkin. Berkacalah. Sepadankah anda dengan apa yang anda paksakan? Sepadankah anda dengan yang anda harapkan? Mungkinkah anda membuat sesuatu yangh tak mungkin jika memang semua garisnya telah diatur?
Wahai pena yang malang, bersabarlah untuk tinta emas cerah yang kau harapkan. Kau pantas mengering.
Pahamilah, kau takkan mati hanya karena kering.
Written by Narita Pratiwi
Stop plagiarism!
Anti plagiarism!
0 comments:
Post a Comment