Memikirkan apa yang tak perlu dipikirkan memang menjadi akar penyakitnya. Disetiap kedip mata ini, terpikirlah olehku bagaimana caranya. Bagaimana yang semestinya. Aku melupakan sesuatu; hidupku telah diatur dengan indah oleh Yang Maha Kuasa. Aku terlalu takut menjadi tersisih.
Masih ada sebagian orang yang melihat kemana niat baik akan berujung tanpa melihat lagi tujuannya. Mereka hanya ingat kemana ujungnya. Mereka seakan lupa dengan niatan baik yang terselubung didalamnya.
Masih ada sebagian orang yang menunjukkan kemarahannya karena merasa dia yang paling dirugikan. Mereka tak melihat ada oranglain yang menangis karena kemarahannya. Mereka ingat akan sakitnya dan menutup mata untuk orang yang sakit karena sakitnya.
Tidak. Aku tidak mengharapkan dunia ini untuk adil. Aku tidak mengharapkan dirinya melihat apa yang aku harap.
Hanya, aku ingin dirinya sekedar tau.
Akulah orang pertama yang tertegun melihatnya terdiam. Akulah orang pertama yang cemas melihatnya terbakar emosi. Akulah orang pertama yang menangis karena tangisannya.
Aku yang menyembunyikan diri, berusaha memperbaiki keadaan. Akulah yang seolah tak peduli betapa menyakitkannya menjadi tersisih.
Ya. Itulah aku. Mencintaimu dengan kadar berlebih. Menyayangimu tanpa pamrih. Menyukaimu walau aku tersisih.
Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!
0 comments:
Post a Comment