Melihatnya 7 hari dalam seminggu, mengaguminya tiap 24 jam dalam sehari, mencintainya pada tiap detik demi detik perpindahan jarum jam itu. Aku baru mengenalnya, sekitar 3 bulan lalu. Perjalananku indah, tapi tak semulus pahamu. Perjalananku bahagia, tapi tak seceria senyummu, aku terbelenggu masa lalu.
Wahai kalian yang pernah hidup di relung hatiku maupun di relung hatinya, senangkah kalian dengan tawa yang berubah menjadi bisu?
Bahagiakah kalian dengan senyum yang berubah menjadi lesu?
Bahagiakah kalian dengan cinta yang menjadi ragu?
Aku bersumpah, aku tak ingin merusak apapun lagi. Aku pun sadar, aku pernah melakukan apa yang sedang kalian lakukan, rasanya ternyata sangat menyakitkan. Aku bukan si dungu. Aku juga tak melulu ingin dibelenggu, olehmu, masa lalu.
Hati ini selalu gusar membiarkanmu selalu mengadu, kau adukan keluhan hatimu tanpaku, tanpanya. Tak akan ada yang berubah, hanya rasa jijik yang semakin kaku membalut pikiranku. Aku tak pernah berniat membunuhmu, tapi mengapa kau tak sadar rasanya jadi diriku, kebahagiaanku kau renggut selalu.
Biarkan aku bernapas lega, sehari tanpa igaumu yang memohon datangnya diriku, datangnya dirinya. Rasa ini tak semudah itu untuk kau rayu.
Bahagiakah kau mengulas masa lalu seolah ini semua salahku? Salahnya? Ingatkah kau dengan adegan-adegan di masa itu? Kau renggut kebahagiaanku, sekali lagi, kau membelenggu kebahagiaanku. Kau! Ingatlah masa-masa di saat dirinya membatu melihat tingkahmu yang palsu, kau belenggu dirinya, kau rusak kebahagiaanku.
Maafkan aku.
Percayalah, suatu saat nanti, kau akan rasakan bagaimana indahnya menjadi diriku namun terbelenggu.
Percayalah, Tuhan selalu tau.