Wednesday, 28 January 2015

Keraguan Kalbu

Banyak yang berkata bahwa hidup harus berjalan dengan lurus,
Ku mencobanya.
Banyak yang berkata bahwa selalu akan ada pilihan,
Ku memilihnya.
Banyak pula yang berkata bahwa kata hati adalah yang paling benar,
Ku mendengarnya.

Ku berjalan di jalan yang lurus, kupilih untuk berbelok sesuai dengan kata hatiku.
Ku berlari menyusuri desiran angin yang menderu, seolah menarikku ke alam yang baru
Ku tegakkan kepalaku untuk sekali lagi menoleh, menenangkan hatiku tuk memilih satu
Hatiku terpaku, pada takdir Mu yang kelabu

Rinduku membeku pada dataran berbatu
Asaku berpadu pada khayalan yang semu
Harapanku berlalu bersama dirimu yang ragu
Aku bergeming menahan pilunya kalbu


Stop plagiarism!
Anti plagiarism!
Written by Narita Pratiwi

Monday, 24 November 2014

Garpu Pop Mie


Kamu tau kan garpu Pop Mie? 

Kecil, putih, bisa ditekuk, tahan panas, bisa dipakai berkali-kali
Kamu tau gak kenapa garpu Pop Mie diciptain?
Ya itu biar praktis, bisa masuk ke dalam wadah trs bisa langsung dipakai buat makan mie yang abis diseduh.
Udah gitu ya, garpu Pop Mie bisa buat mainan kalau lagi bosan, diflip flop gitu di perbatasan yang bikin dia nekuk sama lurus.
Garpu Pop Mie kecil tapi dicari-cari. 

Coba bayangin kalau kamu dapat Pop Mie yang gada garpunya, gimana makannya kalau pas lagi di jalan? 

Diseruput aja gitu biar greget?
Coba bayangin kalau garpu Pop Mie pakai garpu yang di rumah, ntar Pop Mie harganya jadi mahal.
Garpu Pop Mie tapi kadang suka gitu, pas dipakai buat ngaduk mienya, suka meletot.
Kadang juga pas mau dipanjangin suka patah.
Kamu mau jadi garpu Pop Mie gak?
Kecil tapi banyak gunanya. 
Dibutuhin banget walau kelihatannya sepele.
Kelihatannya letoy tapi kuat air panas.
Nyenenginlah kalau main sama garpu Pop Mie.


Tautan Diri

Hampir di seluruh tatanan pikiran ini, tersusun dengan rapi
Terjerembab sunyi ke dalam panorama angan yang pasti
Aku mengharapkan sesuatu itu asli
Tak akan pernah mati

Di kemudian hari, senandung celotehan burung merpati datang menghinggapi
Mau ku tuk menghindari, diam kau tak berhati!
Menunduk pasrah akan mau Mu Tuhan, aku mengabdi
Tuntunlah aku untuk memberi

Maaf dan juga hati


Written by Narita Pratiwi
Stop plagiarism! Anti Plagiarism!

Wednesday, 22 October 2014

Kasih Sayang Tak Akan Pernah Sederhana

Ibu hamil berdaster oranye itu tak mengenakan sendal bagus. Sendal merah muda yang lusuh, tak membawa tas mewah, hanya menggenggam uang receh yang dijumlah totalnya hanya Rp 50.000.

Di sebelahnya, anak laki-laki sekitar 6 tahun, duduk dengan tingkah polahnya yang ceria. Kulitnya yang cokelat meyakinkanku bahwa ia gemar sekali menjemur dirinya di bawah terik matahari.

Melihat mereka, melengos, tiba-tiba sang ibu memeluk anaknya, menciumnya berkali-kali di dahi. Kuperhatikan wajahnya, kasih sayang yang amat dalam berpendar. Diciumnya lagi anaknya, dibelainya keningnya. Anaknya tersipu, diam, merasakan getaran cinta ibunya. Mendekatkan kembali keningnya seolah berkata "sekali lagi bu".

Oh Tuhan, bahagiakan mereka. Perdalamlah kasih sayang dan cinta mereka. Buatlah mereka terlalu tersenyum menghadapi dunia yang penuh dengan panggung sandiwara.



Written by Narita Pratiwi
Stop plagiarism!
Anti plagiarism!

Sunday, 17 August 2014

Kebahagiaanku Sirna

Melihatnya 7 hari dalam seminggu, mengaguminya tiap 24 jam dalam sehari, mencintainya pada tiap detik demi detik perpindahan jarum jam itu. Aku baru mengenalnya, sekitar 3 bulan lalu. Perjalananku indah, tapi tak semulus pahamu. Perjalananku bahagia, tapi tak seceria senyummu, aku terbelenggu masa lalu.

Wahai kalian yang pernah hidup di relung hatiku maupun di relung hatinya, senangkah kalian dengan tawa yang berubah menjadi bisu?
Bahagiakah kalian dengan senyum yang berubah menjadi lesu?
Bahagiakah kalian dengan cinta yang menjadi ragu?

Aku bersumpah, aku tak ingin merusak apapun lagi. Aku pun sadar, aku pernah melakukan apa yang sedang kalian lakukan, rasanya ternyata sangat menyakitkan. Aku bukan si dungu. Aku juga tak melulu ingin dibelenggu, olehmu, masa lalu.

Hati ini selalu gusar membiarkanmu selalu mengadu, kau adukan keluhan hatimu tanpaku, tanpanya. Tak akan ada yang berubah, hanya rasa jijik yang semakin kaku membalut pikiranku. Aku tak pernah berniat membunuhmu, tapi mengapa kau tak sadar rasanya jadi diriku, kebahagiaanku kau renggut selalu.

Biarkan aku bernapas lega, sehari tanpa igaumu yang memohon datangnya diriku, datangnya dirinya. Rasa ini tak semudah itu untuk kau rayu.

Bahagiakah kau mengulas masa lalu seolah ini semua salahku? Salahnya? Ingatkah kau dengan adegan-adegan di masa itu? Kau renggut kebahagiaanku, sekali lagi, kau membelenggu kebahagiaanku. Kau! Ingatlah masa-masa di saat dirinya membatu melihat tingkahmu yang palsu, kau belenggu dirinya, kau rusak kebahagiaanku.

Maafkan aku.

Percayalah, suatu saat nanti, kau akan rasakan bagaimana indahnya menjadi diriku namun terbelenggu.
Percayalah, Tuhan selalu tau.

Sunday, 29 June 2014

That Day

Well, yes, I just don't know uhmm yea kinda forget how to write here anymore.

That day, I called him, I told him that everything would be alright, just because he couldn't watch that-premiere-thing it didn't mean that the world would have its ending. He never appreciated what I did, I was sure that I was his servant and he did.

We had tried to make things better, no I mean, I tried to make things better by telling him that I would never give up on him and I never regretted for being together again with him. I believed in him, I believed that he would change. I didn't expect big, I just wanted him for paying attention at the little things.

That day, I just needed a big support from him, and, the result was nothing.

I was the first person who wanted to tell that OUR WORKS WERE NOTHING.

Wednesday, 21 May 2014

Mungkin Hadir Lagi

Di kemudian hari, aku yang menjadikan diriku seorang pengemis
Pada saatnya
Aku mengerti apa yang disebut dengan perjuangan
Perjuanganku, berakhir

Kemungkinan yang pertama, cintaku memang pudar
Yang kedua, batas itu telah kau lampaui
Yang terakhir, tak ada lagi
Satu atau dua hal yang pertama berpendar

Mengenalkanku pada realita
Menghantarku pada norma
Aku dan kamu
Tak sejalan lagi

Mungkin, aku


Written by Narita Pratiwi
Stop Plagiarism!
Anti Plagiarism!