Friday, 22 March 2013

Alah Udahlah Moment

Hello Blogggggggy!

Kali ini gamau berpuitis, gamau berbahasa, gamau bersastra. Kali ini mau ngetik gak jelas aja hehe. Apaya, ngetik apa kira-kira???????

Ngetik tentang ini yuk!

Kita bisa bilang ini adalah "alah udahlah moment". Kenapa? Soalnya kita bakalan ngerasain posisi ini, alah udahlah moment ini kalo kita tu udah benar-benar nggak tau lagi mau ngapain, alias pasrah. Hmm ngapain gue nulis kayak gini ya? Emang gue lagi pasrah? hahaha gatau dehh, enggak ah biasa aja.

Ya gitu, semua orang pasti pernah ngerasain alah udahlah moment, entah soal karier, asmara, keuangan dan lain-lain. Ini tuh universal banget. Lo bakalan ngerasain kekuatan Allah SWT 3juta kali lipat lebih kuat. Hubungan manusia dengan Tuhannya kali ini benar-benar berpengaruh, gatau ya yang Atheis:p. 

Posisi ini ajaib, disaat lo mikir lo cuma punya 5% kesempatan, disitulah lo lagi punya yang 100%. Karena sombong emang gak akan pernah nguntungin.Waktu lo mikir lo gak bisa ngelakuinnya, disitulah lo kaget kagum sama diri lo yang ternyata jago banget parah bisa fasih banget ngelakuinnya. Kok gak jauh beda sama pesimis ya? salah fokus sih.

Oke gue jelasin dari awal ya*lah daritadi ngapain. Alah udahlah moment tuh cocoknya sama lagunya Coldplay, Fix You. Download sendiri deh ya lagunya hihi. Waktu itu waktu lo ngerasa lo capeeeek banget, lo tuh ngerasa udah jauhh banget jalannya, sampai lo ngerasa peluh tuh nggak berasa. Pegeel banget rasanya, sakit, perih dan semuanya jadi satu. Lo mau nangis aja lo tuh gabisa. Lo minta tolong sama manusia pun udah jenuh banget rasanya. Lo pendem sampai tiba saatnya lo ambil wudhu, lo nangis waktu lo angkat kedua tangan lo buat nyebut "Allahuakbar" waktu solat. Lo bakalan ngerasain atau mungkin lo yang udah ngerasain gimana rasanya curhat sama Allah, mungkin lo bisa nangis lagi pas baca postingan ini.

Alah udahlah moment emang krusial banget. Keren lah pokoknya. 

Udah ya, gue mau ngetik yang lain lagi hihihihihihi. 

Semoga bermanfaat:)

Wednesday, 20 March 2013

Asli yang benar-benar Palsu

Tertegunlah dirinya melihat sebuah benda yang sangat amat mirip dengan aslinya. Tak mudah memang bagaimana membedakannya dengan kasat mata. Benda itu seakan menjamah menjadi apa yang benar-benar ia inginkan. Fatamorgana? Sepertinya sangat hiperbol jika menyebutnya demikian. Benda itu benar-benar memukaunya. Benda itu membuyarkan apa yang sebenarnya ia cari. Peluhnya memutuskan asanya.

Tak dapat dipungkiri, perjalanannya memang sudah lebih dari kata jauh. Ia lupa bagaimana membuat bibirnya sedikit terbuka untuk tertawa, tersenyum pun kelu. Benda itu seakan memanggil dirinya "Hey! Akulah yang engkau cari...."

Ia mendekat. Langkah pertama, kedua... dan ketiga... ia terlalu bersemangat. Dia begitu yakin dengan apa yang akan ia dapatkan. Rasa haus dan lapar yang dirasa, sirna sudah. Dua langkah selanjutnya... ia merasakan bau yang sangat menyengat. Dia hanya berpikir mungkin ada kotoran hewan didekatnya. Semakin dekat lagi, semakin menyangat baunya. Sangat menyengat. Ia semakin bingung dengan bau yang menusuk itu.

Ia mencari-cari darimanakah bau tersebut. Dipandangilah sekelilingnya, yang ada hanya gurun pasir yang tandus. Lalu ia lanjutkan langkah kakinya demi benda itu. Selama perjalanan mendekati benda itu, hatinya benar-benar tak dapat berbohong; mengapa ia harus mendekat ke arah benda yang belum tentu benar seperti apa yang ia cari, memang mirip, tapi bukan, bukan itu. Tapi tubuhnya yang tunduk pada syaraf-syaraf yang tersambung dengan otaknya, benar-benar memberi komando agar ia mengambil benda itu dan semua selesai.

Akhirnya ia sampai.

Sampai pada tempat dimana benda yang sangat ia inginkan, yang sejak lama ia cari. Sebuah benda yang dapat menggantikan benda lamanya yang sedang dicarinya. Sebuah benda yang ternyata takkan ada penggantinya.

Senyumannya lebar merekah, matanya membelalak kaget sekaligus berair terharu. Ia sampai. Ia menemukan apa yang ia cari, kemiripan paras, kemiripan bentuk, benar-benar takkan membuatnya sama. Bau itu datang untuk mencegahnya memungut apa yang tak seharusnya tak harus.

Ia meletakkan benda itu lagi, lalu menghapus peluh dari kamus tubuhnya. Ia hanya bersyukur ia sadar bahwa ia akan menemukan banyak hal yang sama tapi akan jelas berbeda.



Wiritten by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

Saturday, 19 January 2013

Si Pemikir

Keterbatasan ini semakin meluap seakan ini adalah sebuah kelebihan
Aku yang mengira ini semua adalah keterpurukan
Tetapi tidak untuk mereka
Aku yang melihat ini semua adalah siksaan
Tetapi tidak untuk mereka
Berapa kali aku harus meyakinkan diriku
Aku bukanlah satu-satunya orang dibumi ini yang merasa sedih
Yang merasa sakit
Yang merasa hidup ini terlalu berat
Berkali-kali aku mencoba mencari jalan keluar
Berkali-kali pula aku tersesat

Benar
Aku adalah si pemikir
Selalu berpikir apa yang akan terjadi kelak
Apa halangan rintangan yang akan aku hadapi
Berapa banyak cinta yang akan aku dapatkan
Berapa banyak benci yang akan kutanggung
Aku adalah si pemikir
Selalu berpikir berapa banyak dosa yang telah kubuat
Hal-hal bodoh apa yang telah kulakukan
Kebaikan apa saja yang telah membuatku tenang
Aku manusia biasa
Yang selalu berpikir bagaimana caranya menyenangkan oranglain
Yang selalu berpikir untuk melihatmu tertawa

Lalu?
Siapakah pemikir lain diluar sana yang memikirkanku?
Siapakah pemikir lain diluar sana yang merengkuh diam memikirkan bagaimana cara membuatku tersenyum?
Atau, siapakah pemikir lain diluar sana yang tersenyum licik memikirkan bagaimana cara untuk merubuhkanku?
Kamu?



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

Monday, 26 November 2012

Iba Ibu Kota

Setiap hari aku melalui jalan-jalan protokol yang menggambarkan bahwa aku hidup disebuah kota yang menjadi sentral. Kutelisik lagi bagaimana aku bisa hidup di kota ini tanpa adanya kesabaran lebih. Bagaimana aku tetap berusaha meyakinkan diriku bahwa aku bisa hidup dengan semua ini, di kota ini. 

Setiap pagi, aku menyaksikan orang dengan gaya yang necis, memegang berbagai gadget yang sedang in...ah hanya saja mereka tak tau apa makna dari mengantri, makna dari sebuah kesabaran hidup dikota ini. Haruskah aku mengikuti gaya hidup mereka? Yang membentak jika tak menemukan apa yang mereka mau, yang menghardik jika tidak menemukan kenyamanan untuk mereka. Sudahkah mereka dihardik dan dibentak?

Mengklakson dengan terus menerus, membuat bising telinga... Aku tau kalian diburu oleh waktu, tapi apakah kau lihat didepan sana... seorang bapak setengah tua sedang berusaha bangkit dari jalan, berusaha mengangkat sepeda motor yang menimpa dirinya, adakah yang membantu? TIDAK. Akankah pekerjaan itu membuat mereka menjadi orang yang lupa kepada nilai moral? Mobil mewah terisi hanya satu orang didalamnya, berusaha menerobos jalur yang bukan haknya. Siapa lagi yang harus dirugikan? 

Sipengguna kendaraan umum, mendorong, menyerobot, mereka lakukan itu disaat yang lain sibuk menata hati untuk sabar dan menjaga tubuhnya agar tidak tersungkur jatuh karena didorong dari banyak sisi. Penuh, sesak dan lama menjadi ciri khas utama pada saat menanti bus kota yang menjadi nomor satu, yang memiliki halte khusus, jalur khusus, dan pegawai khusus. 

Bus kota lain? Panas, bau bensin menyengat menusuk hidung, kriminalitas yang merajalela, supir yang ugal-ugalan... Silahkan simpulkan sendiri.

Dimalam hari, orang-orang dengan raut muka lelah, tampak terburu-buru mengejar waktu. Antrian panjang yang tidak logis, karena setiap hari seperti itu, menambah deret panjang kefrustasian hidup dan bekerja serta tinggal dikota ini. Carut marut kendaraan yang melewati jalan raya pun semakin menjadi. Mungkin, aparat kepolisian memakluminya dan membuat tak ada satupun pengendara yang terkena sanksi pelanggaran lalu lintas. 

Jika hujan mengguyur, perlu satu hingga dua jam untuk menanti kendaraan umum yang semestinya muncul 15 menit sekali. Belum lagi dengan hadirnya kemacetan luar biasa yang lagi-lagi membuatku sangat iba. Ya iba kepada diri ini. Diri yang mencoba bersikap baik kepada kota yang menjadi tempatku mengadu nasib. Selalu ku lihat keluar jendela angkutan umum dan kutulis khayalan-khayalanku. Semoga khayalku untuk melihat kota ini lebih baik, dapat terealisasi. Tak perlu lagi mengiba pada ibukota....



Wiritten by Narita Pratiwi
Kill Plagiarism!
Anti Plagiarism!

Thursday, 22 November 2012

Pelantun Luka Lama

Mendapati hati yang kian lama tidak terkontrol, gusar yang tak wajar, kebaikan yang berubah menjadi sesuatu yang menjemukkan, keangkuhan yang menjadi kebiasaan...
Haruskah aku menghujat Tuhan?
Haruskah aku menyalahkan keadaan?

Satu amalan berharga mengitari benak ini, dengan sedikit kebohongan, aku menelisik kembali ada apa dibalik itu semua, ya semua.
Ketangguhan yang selama ini terlihat, klise.
Menjadikanku orang yang skeptis, menjauhkan diriku dari kedamaian hati, selalu merasa kurang dalam lebih. 

Kesempurnaan yang membuatku mengulik kisah lalu, mengupas kembali luka. 
Menorehkan goresan-goresan penyesalan.

Ketakutan ini membuih

Tuhan, haruskah ku menghujat-Mu?
Waktu, salahkah dirimu?
Aku?



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!

Monday, 19 November 2012

Pembela Mencari Pembelaan

Hey dude! Do you know what I've done? YAYYYY I have done my assignment for tomorrow!!! Now... I'm studying at English Literature study program, English Department, Faculty of Languages and Arts, State University of Jakarta......!!!!!!             -___________________________________-

I'm so proud for studying literature more deeply than before and I have many friends that SO MUCH FUNNY!!! 

Yaaa gitudeh ya, sebenarnya saya mau menulis dengan bahasa inggris, tapi ya sudahlah ya saya lebih senang berbaku ria. Disini saya masuk melalui jalur mandiri... hmmm semudah ituya masuk UNJ? hmmmm lewat tes MANDIRI yaaa??? hmmm HAHAHAHA

Kenapa sih memangnya kalo masuk PTN lewat tes mandiri, MUSOLA BUAT LO? -__- Banyak yang mencemooh manusia-manusia yang berhasil masuk perguruan tinggi negeri dengan jalur mandiri, ehem termasuk orangtua saya. Menurut saya sah-sah saja kok(membela diri sendiri memang penting). Masih banyak diluar sana yang melalui jalur mandiri saja belum diterima, dan untungnya bukan saya. Malah menurut saya(untuk jurusan saya) jalur mandiri lebih terarah. Karena pada saat tes, ada bagian tes wawancara dan disitu kami para calon mahasiswa baru diuji pada tahap kedua... ya TOEFL(sejenis seperti itu). Lebih terarah bukan? Karena saya memilih jurusan sastra inggris, ya saya harus memiliki pondasi awal dalam berbahasa inggris dongg... nggak main-main. 

Itu hanya gambaran kecil sih.... ya memang lagi-lagi saya membela diri. Soal-soal tes mandiri di UNJ termasuk kategori soal yang sulit loh... saya saja mengerjakan dengan keputus asaan tingkat dewa. Takdir juga menentukan sih.... Baiklah... hanya ini saja yang ingin saya sampaikan untuk memotivasi kalian-kalian yang masih dicemooh. Masa depan itu kita yang megang, bukan tergantung dari siapa yang mencemooh dan apa kata para pencemooh. Walaupun kadang kita butuh dicemooh untuk bangkit menemukan cahaya pembelaan diri yang biasanya membuat kita menjadi berpikiran lebih lugas(?)

Sunday, 7 October 2012

Rakit Kehidupan

Sekarang
Esok
Lusa
Semuanya akan kami lalui

Cita-cita
Mimpi-mimpi
Angan-angan
Semuanya akan kami raih

Satu atau dua
Tiga atau empat
Berapapun itu
Pada saatnya kami semua akan tersenyum
Pada waktunya kami semua akan tertawa
Melihat kebahagiaan yang tiada tara

Disaat awan berubah menjadi biru ungu
Pelangi itu tumbuh

Tuhan, terimakasih atas berkat-Mu
Tuhan, berikan aku kesempatan untuk mengingat kesulitanku dimasa itu
Agar aku selalu dapat mengucap syukur dalam haru



Written by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!