Tak dapat dipungkiri, perjalanannya memang sudah lebih dari kata jauh. Ia lupa bagaimana membuat bibirnya sedikit terbuka untuk tertawa, tersenyum pun kelu. Benda itu seakan memanggil dirinya "Hey! Akulah yang engkau cari...."
Ia mendekat. Langkah pertama, kedua... dan ketiga... ia terlalu bersemangat. Dia begitu yakin dengan apa yang akan ia dapatkan. Rasa haus dan lapar yang dirasa, sirna sudah. Dua langkah selanjutnya... ia merasakan bau yang sangat menyengat. Dia hanya berpikir mungkin ada kotoran hewan didekatnya. Semakin dekat lagi, semakin menyangat baunya. Sangat menyengat. Ia semakin bingung dengan bau yang menusuk itu.
Ia mencari-cari darimanakah bau tersebut. Dipandangilah sekelilingnya, yang ada hanya gurun pasir yang tandus. Lalu ia lanjutkan langkah kakinya demi benda itu. Selama perjalanan mendekati benda itu, hatinya benar-benar tak dapat berbohong; mengapa ia harus mendekat ke arah benda yang belum tentu benar seperti apa yang ia cari, memang mirip, tapi bukan, bukan itu. Tapi tubuhnya yang tunduk pada syaraf-syaraf yang tersambung dengan otaknya, benar-benar memberi komando agar ia mengambil benda itu dan semua selesai.
Akhirnya ia sampai.
Sampai pada tempat dimana benda yang sangat ia inginkan, yang sejak lama ia cari. Sebuah benda yang dapat menggantikan benda lamanya yang sedang dicarinya. Sebuah benda yang ternyata takkan ada penggantinya.
Senyumannya lebar merekah, matanya membelalak kaget sekaligus berair terharu. Ia sampai. Ia menemukan apa yang ia cari, kemiripan paras, kemiripan bentuk, benar-benar takkan membuatnya sama. Bau itu datang untuk mencegahnya memungut apa yang tak seharusnya tak harus.
Ia meletakkan benda itu lagi, lalu menghapus peluh dari kamus tubuhnya. Ia hanya bersyukur ia sadar bahwa ia akan menemukan banyak hal yang sama tapi akan jelas berbeda.
Wiritten by Narita Pratiwi.Kill Plagiarism!Anti Plagiarism!
0 comments:
Post a Comment