Setiap hari aku melalui jalan-jalan protokol yang menggambarkan bahwa aku hidup disebuah kota yang menjadi sentral. Kutelisik lagi bagaimana aku bisa hidup di kota ini tanpa adanya kesabaran lebih. Bagaimana aku tetap berusaha meyakinkan diriku bahwa aku bisa hidup dengan semua ini, di kota ini.
Setiap pagi, aku menyaksikan orang dengan gaya yang necis, memegang berbagai gadget yang sedang in...ah hanya saja mereka tak tau apa makna dari mengantri, makna dari sebuah kesabaran hidup dikota ini. Haruskah aku mengikuti gaya hidup mereka? Yang membentak jika tak menemukan apa yang mereka mau, yang menghardik jika tidak menemukan kenyamanan untuk mereka. Sudahkah mereka dihardik dan dibentak?
Mengklakson dengan terus menerus, membuat bising telinga... Aku tau kalian diburu oleh waktu, tapi apakah kau lihat didepan sana... seorang bapak setengah tua sedang berusaha bangkit dari jalan, berusaha mengangkat sepeda motor yang menimpa dirinya, adakah yang membantu? TIDAK. Akankah pekerjaan itu membuat mereka menjadi orang yang lupa kepada nilai moral? Mobil mewah terisi hanya satu orang didalamnya, berusaha menerobos jalur yang bukan haknya. Siapa lagi yang harus dirugikan?
Sipengguna kendaraan umum, mendorong, menyerobot, mereka lakukan itu disaat yang lain sibuk menata hati untuk sabar dan menjaga tubuhnya agar tidak tersungkur jatuh karena didorong dari banyak sisi. Penuh, sesak dan lama menjadi ciri khas utama pada saat menanti bus kota yang menjadi nomor satu, yang memiliki halte khusus, jalur khusus, dan pegawai khusus.
Bus kota lain? Panas, bau bensin menyengat menusuk hidung, kriminalitas yang merajalela, supir yang ugal-ugalan... Silahkan simpulkan sendiri.
Dimalam hari, orang-orang dengan raut muka lelah, tampak terburu-buru mengejar waktu. Antrian panjang yang tidak logis, karena setiap hari seperti itu, menambah deret panjang kefrustasian hidup dan bekerja serta tinggal dikota ini. Carut marut kendaraan yang melewati jalan raya pun semakin menjadi. Mungkin, aparat kepolisian memakluminya dan membuat tak ada satupun pengendara yang terkena sanksi pelanggaran lalu lintas.
Jika hujan mengguyur, perlu satu hingga dua jam untuk menanti kendaraan umum yang semestinya muncul 15 menit sekali. Belum lagi dengan hadirnya kemacetan luar biasa yang lagi-lagi membuatku sangat iba. Ya iba kepada diri ini. Diri yang mencoba bersikap baik kepada kota yang menjadi tempatku mengadu nasib. Selalu ku lihat keluar jendela angkutan umum dan kutulis khayalan-khayalanku. Semoga khayalku untuk melihat kota ini lebih baik, dapat terealisasi. Tak perlu lagi mengiba pada ibukota....
Wiritten by Narita Pratiwi
Kill Plagiarism!
Anti Plagiarism!
Bahasanya sudah cukup bagus. Tapi akan lebih bagus lagi jika Narita berlatih lebih giat supaya tulisan yang dibuat makin oke. Cayo!
ReplyDelete